RSS
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

24 Februari 2008

Cerpen:

C O R O

Oleh: Tjahjono Widijanto

Sudah tiga minggu aku ditempatkan atau tepatnya dipindahkan bekerja di bagian ini. Bagian yang banyak orang mengatakan sebagai bagian yang lumayan basah di kota kecil ini, lebih-lebih aku dipromosikan sebagai Kasubdin, jabatan yang sebenarnya tak pernah kubayangkan sebelumnya. Keluargaku, terutama Ibu dan isteriku saking gembiranya sampai mengadakan pesta kecil-kecilan atas kedudukan baruku itu.

Semua urusan berjalan lancar, baru pada minggu keempat aku mulai menemukan sesuatu yang membuatku tak habis pikir. Dimulai ketika suatu pagi aku datang lebih awal (aku ingin memberi contoh kepada staf-stafku) ke kantor. Ketika aku memasuki ruang kerjaku yang tidak terlampau luas tapi cukup bersih dan tertata rapi, nampak seekor coro berkeliaran di meja kerjaku. Dengan asyiknya binatang menjijikkan itu berlenggak-lenggok di atas tumpukan map dan buku-buku. Ketika aku datang dan membuka pintu, binatang itu berhenti dan menatapku sambil menggetarkan sungut-sungutnya. Ia sama sekali tak gentar ketika aku mendekatinya. Kuraihraih koran di sudut meja, menggulungnya lalu kupukulkan , “Mampus, kau!”

Tak kuduga binatang yang tampaknya lemah itu dapat berkelit dengan gesit. Ia tahu-tahu sudah berpindah di atas kursi. Aku memburu dan memukulnya sekali lagi. Tapi bak seorang pesenam, coro itu melenting dan hinggap di rak buku. Aku mencecar dengan pukulan berikutnya, dan …prangg! Kaca tempat melindungi buku-buku yang berjejer di dalamnya pecah berantakan. Serangga konyol itu sudah berpindah di lantai dengan tetap menggetarkan sungutnya yang panjang seolah-olah menertawakan kemarahanku.

Ada apa Pak?” tanya Parman pegawai kebersihan yang tiba-tiba muncul di balik pintu rupanya ia mendengar suara kaca pecah tadi.

“Itu Man, coba lihat!” kataku. Parman tersenyum melihat coro itu yang segera menghilang di antara lekukan antara meja dan rak buku. Parman segera membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai.

Aku segera melupakan insiden kecil itu. Tapi esok harinya aku merasa ditantang. Betapa tidak, ketika datang tidak saja satu coro tapi aku melihat lima coro sekaligus. Mereka berkumpul di atas meja kerjaku, dua di atas map, dua di atas buku dan satu diatas sandaran kursiku. Seperti kemarin serangga menjijikan itu menggetarkan sungut-sungutnya seakan-akan memberi tabik padaku.

Aku langsang meradang. Tas yang kujinjing langsung meluncur dan menghantam meja dengan kerasnya. Tembakanku melesat. Coro-coro itu malahan berkumpul di sandaran kursiku dengan santainya. Aku diam mengintai. Mereka tenang-tenang saja tak menghiraukanku. Aku jadi lupa dengan rasa jijikku, melompat sambil menghantamkan telapak tanganku. Kursi mencelat tapi tak ada satupun yang jadi korban. Keluarga coro itu menghilang di balik rak buku. Aku langsung berteriak mengomando Parman untuk mengulang membersihkan kembali ruang kerjaku.

Kejengkelanku makin hari makin memuncak. Coro-coro­ itu seperti sengaja menerorku. Mereka muncul tidak saja saat ruanganku sepi di pagi hari. Tapi juga siang hari saat aku sibuk bekerja mereka muncul hilir mudik di mejaku. Bahkan yang memalukan saat aku sedang menerima tamu mereka berkeliaran bahkan dengan beraninya memanjat sepatuku dan merayap di punggungku. Berkali-kali pula barang-barang di mejaku jadi korban salah sasaran, bahkan pernah gelas dan asbak kaca pecah berantakan dan tanganku berdarah, tapi coro-coro­ itu sepertinya selalu punya kesaktian untuk menghindar. Berkali-kali pula kusuruh Parman melakukan razia besar-besaran di ruang kerjaku, tapi selalu hasilnya nol besar.

Aku benar-benar sampai pada puncak kemarahan. Aku merasa dilecehkan habis-habisan ketika suatu siang di meja dan di laci mejaku penuh dengan telur-telur coro. Telur-telur coro itu disimpan induknya pada tempat serupa kapsul persis seperti selonsong peluru. Biasanya telur-telur dalam kapsul itu dibawa induknya ke mana-mana baru diletakkan setelah hampir menetas. Benar juga, sesaat kemudian aku melihat kapsul-kapsul itu pecah, telur-telur itu menguak dan aku melihat berpuluh-puluh coro kecil berhamburan lari menyebar ke seluruh sudut ruang-ruangku. Dan akibatnya lagi-lagi Parman yang jadi sasaran kemarahanku.

“Kamu itu benar-benar nggak becus Man! Masak kamu nggak bisa mengurusi coro-coro itu. Kamu kan bisa beli obat serangga. Semprot itu seluruh celah-celah dinding, rak, dan laci-laci!” teriakku ketika kejengkelanku tambah memuncak.

“Maaf Pak, kemarin sudah saya semprot kok,” kata Parman sambil menundukan kepala,. “Tapi serangga-serangga itu sepertinya kebal. Malah saya sudah habis dua botol obat serangga.”

“Kamu kan bisa cara lain. Kalau perlu ajak petugas kebersihan lain untuk bersih-bersih total. Bersihkan semua ruangan yang ada di gedung ini. Kalau perlu hubungi petugas kesehatan biar mereka menyemprot gedung ini dengan DDT!” teriakku tambah keras.

Parma hanya diam menunduk. Tetap sejurus kemudian dia mengangkat mukanya. Wajahnya jadi ragu-ragu. “Maaf Pak, eeh, anu Pak, tidak saja di ruangan Bapak yang banyak coronya. Semua ruangan dalam gedung ini dipenuhi coro-coro yang hidup bebas”.

” Seluruh ruangan, gedung sebesar dan sebersih ini? Ah, kamu jangan ngaco!”

“Sumpah Pak, saya tidak bohong. Malah di ruang Kepala Dinas paling banyak dan subur. Bahkan di ruang Mbak Desy sebelah itu juga banyak dan gemuk-gemuk,” katanya meyakinkan.

Aku menjadi terbengong-bengong, terlebih lagi ketika Parman menyebut-nyebut Kepala Dinas juga Desy, pegawai termuda dan paling cantik di kantor ini. Aku penasaran. Mulai hari itu aku menjadi seperti detektif mengamati setiap ruang dengan diam-diam terutama ruang Desy yang terletak di sebelah kanan ruang kerjaku.

Sampai pada suatu siang aku dapat melihat bahwa Parman tidak omong kosong. Ruang Desy yang bersih rapi dengan tatanan warna yang romantis itu kerap kali melintas beberapa coro yang gemuk-gemuk. Bahkan aku nyaris terpekik ketika suatu siang pada saat jam istirahat aku melihat Desy bercengkerama dengan seekor coro ukuran besar. Tangannya dengan lembut memegang coro itu dan didekatkannya pada mukanya yang putih dan cantik. Sambil tersenyum-senyum, sungut binatang menjijikkan itu disentuh-sentuhkannya pada pipi, hidung, dan bibirnya. Dan masyaallah! Aku menjadi mual seketika, ketika Desy membuka kancing baju atasnya, lalu mengusap-ngusapkan sungut, dan seluruh tubuh serangga itu ke balik bhnya dan matanya setengah terpejam menikmati sentuhan dan usapan sungut binatang keparat itu. Aku tak tahan menahan mualku dan bergegas lari ke belakang sampai-sampai menabrak kursi di belakangku. Desy terkejut, tapi melihat aku berlari ia cuma tersenyum dan kembali menikmati permainannya itu.

Sehari setelah kejadian itu aku dipanggil menghadap Kepala Dinas di ruangannya. Benakku langsung dipenuhi dengan berbagai pertanyyaan, dan jantungku berdetak lebih cepat dari biasa. “Jangan-jangan ini gara-gara coro si Desi itu, ”, pikirku.

“Mari masuk Dik, duduk di sini, santai saja”, sambut Kepala Dinas dengan ramah sambil tersenyum lebar menatapku. Dengan ragu-ragu aku menggeser kursi di depannya. Ruangan ini begitu rapi dengan dominasi warna biru lembut. Tumpukan map di meja, tiga pesawa telepon, dan rak di samping dan di belakang tempat duduknya penuh dengan buku-buku tebal. Rupanya seorang yang intelek juga bosku ini, pikirku dalam hati.

Tiba-tiba aku terpekik ketika sudut mataku melihat persis didepan Kepala Dinas muncul dua sungut seperti antenna bergerak-gerak. Lalu muncul kepala dan seluruh tubuh seekor coro dalam ukuran jumbo. Kepala Dinas tersenyum melihat kekagetanku. Dengan santai ia menangkap serangga kotor itu, diletakkannya di telapak tangannya yang terbuka, dan dielus-elusnya dengan penuh kasih.

“Ini to, yang membuat kamu kaget, tenang saja, binatang ini lucu dan menggemaskan kok”, katanya sambil terus membelai punggung coro itu. Dan kurang ajar, coro itu rupanya tahu ia sedang dimanja dan dilindungi, sungutnya semakin digetar-getarkannya, dan matanya seakan-akan mengedip-ngedip padaku.

“Kamu tidak perlu jijik dan takut dengan serangga lucu ini”, sambungnya, “Semua pegawai di sini sudah pada akrab dengan mereka. Dulu mereka ya seperti kamu, tapi lama-lama jadi biasa berteman dengan mereka. Kamu tahu Desy kan? Dulu ia malah sampai pingsan ketika pertama kali ketemu dengan coro-coro ini, tapi sekarang, kamu lihat sendiri ia yang paling maniak bercengkerama dengan coro-coro ini. Bahkan ia punya koleksi paling banyak memelihara coro setelah aku”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Kepala Dinas itu melanjutkan ceramahnya.

”Aku memanggilmu kesini ingin membantumu beradaptasi dengan binatang-binatang ini. Orang lain mungkin menganggap serangga ini menjijikkan tapi sebenarnya hewan ini sama dengan hewan peliharaan seperti kucing, anjing atau ikan hias. Kaum coro ini punya banyak identitas. Kalau dalam bahasa Indonesia ia disebut kecoa atau lipas. Dalam bahasa Inggris ia dipanggil cockroach. Orang Jerman menyebutnya scaben, dalam bahasa Perancis bernama blatteis, dan orang Spanyol memanggilnya cucarachas.”

Aku menjadi semakin terlongoh-longoh mendengarkan penjelasannya itu. Bosku menjulurkan sebuah coro lagi yang entah dari mana sudah berada di genggamannya.

“Coba lihat dan amati dua coro ini. Bentuknya relatif sama. Lonjong, tipis, gepeng dan punya sepasang sungut panjang. Tapi sebenarnya mereka punya warna yang beraneka macam tergantung di mana ia hidup. Coro yang berasal dari daerah berhawa dingin berwarna coklat, kelabu, dan hitam. Yang hidup di daerah tropis ada yang coklat, coklat kehijauan, kekuningan, malah ada yang kemerahan atau oranye. Coba lihatlah ini..” katanya sambil menyodorkan sebuah kotak kecil terbuat dari kayu berpelitur mengkilat yang diambilnya dari laci meja.

Di dalam kotak itu aku melihar coro-coro beraneka rupa. Aku terpaksa mengamatinya. Tiba-tiba aku tak dapat menahan rasa ingin tahuku dan bertanya. “Maaf Pak, sayap-sayap mereka kok berbeda-beda?”

Mendengar pertanyaanku itu, Kepala Dinas tertawa ngakak, “Nah, rupanya kau sudah mulai tertarik dengan binatang lucu ini kan? Mereka juga punya sayap-sayap yang bervariasi. Ada coro yang punya sayap lebar dan panjang, tetapi ada juga coro jenis blatta orientalis yang sayap bagian belakangnya tipis dan dapat dilipat seperti kipas. Tetapi meskipun serangga-serangga ini punya sayap, kaum coro nggak dapat terbang jauh. Sebagai gantinya, coro dapat lari kencang dan gesit karena mempunyai kaki-kaki yang panjang dan kokoh.”

“Lalu bagaimana cara mereka berkembang biak Pak?” tanyaku yang menjadi makin penasaran.

Senyum Kepala Dinas tambah lebar dan dengan lebih bersemangat ia kembali menjelaskan.

Coro berkembang biak dengan cara bertelur. Telurnya berjumlah banyak dan berentengan antara 15 sampai 60 biji diletakkan pada sebuah lapisan berbentuk kapsul yang bernama ootheca, dan rentengan itu di bawa ke mana-mana di bawah perut dan baru diletakkan kalau akan menetas. Coro-coro ini memang senang bergerombol dan bersembunyi terutama ditempat yang gelap, tumpukan-tumpukan, atau ditempat tertutup dan jarang keluar kalau siang hari. Tapi coro-coro di kantor kita ini lain dengan coro-coro di tempat lain. Di siang hari di kantor ini mereka sangat biasa menampakkan diri. Dan kamu tidak usah terlampau takut dengan mereka. Coro memang tergolong mahluk yang rakus, sisa-sisa makanan apa saja habis disantap, tapi di sini coro-coronya adalah coro priyayi yang sudah terkendali. Artinya mereka tidak lagi hidup jorok, makan sisa nasi basi, keluyuran di tempat sampah, toilet, atau lemari makan. Coro disini malah senang hidup dalam ruangan-ruangan yang bersih ber-ac,di ruang komputer, atau dalam meja-meja kantor yang terawat, sehingga baunya tidak busuk dan mengganggu.”

Aku tambah melongo mendengar kuliah percoroan dari atasanku itu. Ketika otakku masih mencoba mencerna penjelasannya itu, beliau makin bersemangat menjelaskan.

“Kamu tahu, aku sendiri malah punya hobi memelihara coro.Coro koleksiku sudah ratusan jumlahnya dalam berbagai bentuk dan jenis. Ada yang berjenis paling kecil yang panjangnya cuma 0,6 cm ada pula yang berjenis besar yang panjangnya sampai 7,6 cm. Dan ini, coba lihat, kemarin ketika aku ada urusan di Australia aku membeli coro yang berjenis ukuran luar biasa.”

Tangan Kepala Dinas mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan …astaga! Aku hampir saja berteriak ketika melihat sebuah coro yang besarnya baru kali ini aku lihat. Beliau tertawa melihat kekagetanku, binatang itu diangkat diletakkan persis di mukaku sehingga aku dapat melihat dengan jelas. Dan beliau dengan bangga kembali menjelaskan coro kesayangannya itu.

“Ini jenis kecoak Queensland Australia. Bahasa latinnya mascropanesthis Rhinoceros, panjangnya 3, 15 inci dan bobot tubuhnya 1,2 ons. Tubuhnya tidak berbau dan dapat mencapai umur tiga tahun. Warnanya bagus kan? Coba kamu pegang, ayo, nggak papa kok?”

Sambil berkata Kepala Dinas menyorongkan coro itu makin dekat ke wajahku. Pipiku dapat merasakan getaran dari sungutnya yang panjang. Aku menjadi geli sekaligus ngeri. Kepala Dinas meraih tangan kananku lalu dengan perlahan diusap-usapkan pada punggung coro besar itu. Serangga itu seakan-akan menikmati belaian tanganku. Perasaanku sendiri menjadi aneh, perlahan-lahan rasa jijikku hilang, mataku tidak lagi memancarkan kegelisahan dan permusuhan. Bahkan aku menjadi jatuh cinta dan gemas pada tubuh gemuknya.

“Nah, lucu kan? Baunya juga tidak busuk seperti yang kaubayangkan. Kalau kau mau kamu bisa mengoleksinya. Jenis itu aku masih punya satu. Siapa tahu kamu nanti jadi punya hobi pecinta dan memelihara coro. Sudah banyak rekan-rekan kerja kita yang hobi memelihara dan mengoleksi aneka coro. Nanti kita dapat berburu berbagai jenis coro termasuk yang langka dan tidak ada di tempat kita. Bahkan kita sesama pecinta coro sudah punya organisasi, namanya OPCI, Organisasi Pecinta Coro Indonesia. Kita rutin melakukan pertemuan sebulan sekali dan melakukan kegiatan penelitian, pencarian dan pelestarian coro”.

Aku mengangguk-angguk dan semakin tertarik. Kepala Dinas tersenyum makin lebar dan memberikan padaku sebuah buku berukuran tebal dengan desain sampul yang mencolok. “Ini kuberi kamu buku panduan praktis bagaimana memelihara coro yang baik dan benar “ Aku menerimanya, kubaca judulnya: Petunjuk Hidup Tentram dan Bahagia Bersama Coro.

Setelah itu Kepala Dinas mempersilahkan aku kembali ke ruanganku. Beliau menjabat tanganku erat-erat sambil berpesan agar aku memelihara dan merawat sungguh-sungguh coro pemberiannya serta sekali lagi menganjurkanku agar juga membaca habis buku yang diberikannya.

Semenjak pertemuan itu aku menjadi makin akrab dengan Kepala Dinas. Aku juga bertambah teman terutama di kalangan pecinta coro. Koleksi coroku juga makin banyak. Isteri dan anak-anakku tak pernah protes dan terganggu dengan puluhan coro yang berkeliaran bebas di rumah. Dan aku tak pernah lagi merasa tergganggu kalau saat bekerja di kantor beberap coro berkeliaran di ruanganku. Juga tak merasa risih bila saat menerima tamu ada coro yang bergelayut manja di kaki, di dasi, atau di pundakku. Kepada tamu-tamuku dengan bangga kuceritakan tentang hobiku memelihara dan mengoleksi coro, bahkan kepada tamu-tamu yang kuanggap khusus atau penting aku selalu memberi cindera mata seekor coro pilihan yang langka dan istimewa.

********

Di muat di Majalah Matra, 2004

KAYON
Oleh: Tjahjono Widijanto

Dari balik pepohonan dan hamparan belukar kijang kencana itu muncul seperti asap. Moncongnya sedikit lancip dengan dua bundaran mata bening sipit berputar-putar seperti mengajak berbicara. Tubuhnya emas dengan kaki-kaki ramping berloncatan mengitari Sinta dengan jenaka. Sang jelita tergoda. Rama bagai kilat meloncat menerkam, secepat kilat pula kijang berkelebat menghindar. Keduanya melesat tampak bagai meteor makin lama makin titik nun jauh dari pelupuk Sinta. Jerit semayup-sayup terdengar bagai salam perpisahan. Dan Laksmana terusir tersaruk sia-sia…

Ooo, angin rimba yang menggelepar

mengantarkan matahari gontai mencium mayat

rintihan tangis seribu wanita dan bocah-bocah

senja kelabu yang segera beradu

menjadi malam yang amat hitam, ooo!

***

Ruangan itu sesepi kuburan. Seperangkat gamelan pelog slendro masih saja terbujur di sebelah kanan dengan debu-debu yang tumbuh di atasnya. Juga sekotak wayang kesayangan almarhum Bapak. Sebuah kursi goyang besar (yang hampir tidak ada yang mendudukinya setelah Bapak meninggal), deretan foto keluarga, lampu gantung tua, semuanya tidak ada yang berubah.

“Jam berapa kamu dari datang Ut? Kami semua sudah menunggu. Cuci kaki atau mandilah dulu lalu tengoklah Ibu di kamar”

Sapaan halus itu cukup mengagetkan lamunanku. Pak Dhe muncul dari ruang tengah. Segera kucium tangan Pak Dhe, kakak satu-satunya dari Ibu. Lalu bergegas ke belakang.

Ketika sampai di kamar aku terkejut. Wajah Ibu demikian kurus, pucat dan sayu.. Ibu memang sudah sudah berusia 65 tahun, tapi beliau selama ini sangat pandai merawat tubuhnya sehingga selalu tampak lebih muda dan segar, tapi kini Ibu tampak jauh lebih tua dari seseorang yang berumur tujuh puluhan. Padahal baru tiga bulan lalu aku menengoknya dan waktu itu beliau tampak baik dan sehat-sehat saja.

Tangannya terasa dingin dan gemetaran ketika aku menciumnya. Beliau tak menjawab salamku. Air mata mengambang di pelupuknya dan tangannya tak henti mengelus-elus sebuah pigura kaca di pangkuannya. Sudah lima tahun pigura kaca bercat keemasan dengan sebuah dasi dengan warna dasar biru berleret-leret merah hati di dalamya itu terpampang di dinding kamar Ibu. Saban tahun setiap lebaran, dasi dalam pigura kaca itu dikeluarkan dari kamar dan dipasang di ruang tengah tepat di bawah foto keluarga yang berjejer di tembok. Di bawah dasi dan foto-foto itu kami sekeluarga berkumpul di malam-malam menjelang lebaran sampai lebaran ketupat, sepasar setelah hari raya. Di dasi itu tersimpan pusat segala kebanggan ibu terhadap anak-anaknya.

****

Putra Ibu tiga. Yang pertama Mbak Tutik,---Wulan Widiastuti—menjadi dosen di sebuah PTN di Surabaya dan suaminya seorang dokter. Yang kedua Mas Prasetya Utama, lulusan magister manajemen, tinggal di Semarang dan menjadi pengusaha sukses. Dan yang ragil, Mas Wahyu., lengkapnya Wahyu Kusuma Wibawa, jebolan Sarjana Hukum Universitas terkemuka di Indonesia dan menjadi pengacara di Jakarta. Sedangkan aku sendiri, Wiji Utami, sejak umur sembilan tahun ikut Ibu, beruntung dikuliahkan Ibu di IKIP swasta di kota kecil ini sambil menemani Ibu yang menjanda. Beruntung lagi karena setahun lalu bertemu dengan seorang laki-laki yang menjadi suamiku, seorang pegawai di kejaksaan negeri di ibu kota. Meski bukan anak kandung aku adalah kepercayan Ibu dan seluruh keluarga karena sebelum bersuami akulah yang menemani dan melayani Ibu, sementara ketiga putera Ibu sejak remaja sudah meninggalkan rumah untuk sekolah, kuliah dan kemudian bekerja.

Tiba-tiba aku dikagetkan dengan pertanyaan lirih nyaris tak terdengar, “Nduk, apakah berita-berita santer tentang kakakmu Wahyu itu benar? Benarkah Wahyu sedang dicari-cari polisi nduk?

Aku tak sanggup menjawab pertanyaan Ibu justru karena aku tahu siapa Mas di mata Ibu. Dari ketiga putera-putrinya, Mas Wahyulah yang paling disayangi dan palingmembetot perhatian ibu. Kalau dua kakaknya lancar-lancar saja hidupnya. Sekolah tertib, kuliah juga selesai tepat waktu dan lancar memperoleh pekerjaan, Mas Wahyu lain. Ia jarang pulang dan hampir tak pernah berkirim surat bahkan jarang minta jatah bulanannya. Kuliahnya delapan tahun baru selesai karena lebih banyak beraktivitas daripada menekuni diktat-diktatnya.

Tetapi Ibu tidak berkeberatan sama sekali. Juga ketika kami semua tahu Mas Wahyu merupakan salah seorang aktivis kampus yang kerap kali menggerakkan demonstrasi di kampusnya. Ibu juga tak khawatir sedikitpun ketika pada suatu saat mendapat kabar bahwa Mas Wahyu terpaksa menyembunyikan diri karena akan diculik seperti yang dialami beberapa temannya..

Suatu kali beliau berkata dengan penuh bangga, ”Nduk, Masmu Wahyu itu persis bapaknya. Tidak gampang menyerah dan keras memegang prinsip. Kamu tahu, Bapak dulu pegawai negeri, bahkan Kepala Bagian lho, tetapi Bapak memlih pensiun karena tidak mau berbuat neko-neko dan tidak tahan melihat kebobrokan atasan-atasannya. Jadinya Bapak lebih suka ndalang wayang kulit dan nunggu tanggapan”.

Ibu memang sangat bangga dengan suaminya, karena itu selalu berupaya keras mendidik putera-puteranya agar seperti bapak, Hardja Prawira. Beliau menasehati putera-puteranya termasuk aku dengan cara menceritakan lakon-lakon wayang. Ibu selalu mendongeng sebelum kami tidur. Selalu ada saja kisah yang diceritakan setiap malam, kami semua dibawanya mengembara ke alam yang indah dan menakjubkan. Gaya berceritanya begitu hidup dan mempesona bagaikan kereta kencana yang membawa kami dalam berbagai gairah petualangan. Dalam cerita Ibu kami bertemu dengan tokoh-tokoh yang begitu beragam wataknya. Ada yang jujur, pemberani, namun ada juga yang culas, serakah, dan licik. Kami tersugesti menjadi tokoh satriya perwira yang rela menderita agar orang lain bahagia.

Dari semua kisah-kisah wayang itu Ibu paling suka dan paling sering mendongeng penggalan kisah Ramayana, saat Sinta isteri Rama tergoda rayuan kijang kencana penjelmaan Kala Marica suruhan dari Rahwana. Lewat cerita itu Ibu menegaskan agar kami tidak gampang hanyut oleh godaan-godaan hidup. Ibu mewanti-wanti kami untuk selalu eling bahwa Kala Marica atau kijang kencana itu akan selalu menggoda setiap waktu.

Semenjak berita pelariannya itu Mas Wahyu tak pernah pulang. Hampir empat tahun Mas Wahyu sepert lenyap ditelan bumi. Lalu sampailah pada hari yang tidak akan mungkin dilupakan oleh kami semua keluarga besar Hardja Prawira. Waktu itu hari Minggu, matahari belum lagi terang ketika sebuah mobil warna metallic masuk begitu saja di halaman rumah. Aku yang kebetulan sedang menyapu halaman hampir berteriak saat melihat sesosok tubuh turun dari mobil. Mas Wahyu pulang. Rambutnya masih saja dibiarkan gondrong sampai bahu. Tubuhnya yang dulu kurus sekarang agak gemuk dan bersih dibalut hem biru lengan panjang dengan sepotong dasi dengan warna dasar juga biru dengan leret-leret merah hati. Di belakangnya menguntit seorang perempuan cantik menggendong bayi yang kira-kira tiga bulan umurnya. Perempuan itu dipanggilnya dengan nama Desy.

Hari itu menjadi hari yang paling membahagiakan Ibu. Mas Wahyu pulang dengan membawa anak isterinya. Ibu tak henti-hentinya mengusap air mata sambil mengelus-elus rambut cucunya. Hari itu juga Mbak Tutik dan Mas Pras dipanggil pulang, demikian juga seluruh famili. Ibu jadi seperti punya hajat. Di depan seluruh keluarga Mas Wahyu bercerita bahwa ia telah mepunyai kedudukan di sebuah departemen pemerintah di ibu kota. Aktivitasnya sebagai mahasiswa yang kritis membuat ia dikenal oleh seorang tokoh partai politik yang selepas jatuhnya rezim lama menjadi pejabat pemerintahan yang kemudian menawarinya jabatan di departemen yang dipimpinnya. Ia juga mendirikan kantor pengacara dan sebuah LSM. Jadilah Mas Wahyu seperti sekarang. Wahyu yang tak lagi kurus dan kumal, tapi Wahyu yang rapi dengan dasi warna biru leret-leret merah dan bagasi mobil penuh oleh-oleh buat keluarga dan tetangga-tetangga.

Semenjak itu dasi biru leret-leret merah hati yang dikenakan Mas Wahyu seakan-akan menjadi pusaka keramat keluarga kami. Dasi itu diminta Ibu dan dimasukkan pada pigura kaca berbingkai emas lalu diletakkan di dinding kamar Ibu. Setiap tahun menjelang lebaran tiba, dasi dalam pigura kaca itu dikeluarkan dari kamar dan dipajang di ruang tengah tempat seluruh keluarga biasa berkumpul. Saat-saat itu pula Ibu selalu mengadakan tirakatan keluarga dengan mengundang para tetangga dan pemuda-pemuda desa kami, dan dengan bangga bercerita tentang pemiulik dasi itu sambil tak lupa menasehati para pemuda agar dapat meneladani keberhasilan si empunya dasi dalam mengangkat martabat dan nama baik keluarga dan desa kami. Mas Wahyu sendiri tetap saja jarang pulang hanya bingkisan-bingkisan hadiahnya tiap tahun tak pernah absen dinikmati para tetangga juga sumbangan ini itu untuk masjid desa, aspal jalan, irigasi sawah dan sumbangan-sumbangan lainnya.

“Utami, nduk, lagi-lagi lamunanku pecah oleh pertanyaan Ibu, “ apakah benar berita-berita tentang Masmu Wahyu ? Apakah benar Wahyu telah tergoda dan lupa diri?”

Aku mematung menatap Ibu, bibirku gemetar wajahku kualihkan dari tatapan Ibu. Tiba-tiba Ibu menggigil dan menangis tersenggal-senggal dengan hebatnya.

“OAllah Gusti….kenapa ada maling di trah Hardja Prawira?! Mengapa kamu malah jadi Marica, jadi raksasa ta ngger, ngger..?!”

Kurangkul tubuh kurus yang terbaring itu dan dengan susah payah akhirnya aku berhasil meredam gejolak perasaan dan emosinya. Kubiarkan beliau menangis hebat dalam pelukanku sampai tertidur kelelahan.

*****

Kami semua, Aku, Pak Dhe, Mbak Tutik dan Mas Pras berkumpul di ruang tengah. Pak Dhe bercerita bahwa sebulan yang lalu, menjelang magrib Mas Wahyu tiba-tiba pulang sendirian. Ibu tergopoh-gopoh menyambutnya dengan rentetan pertanyaan tapi Mas Wahyu hanya menjawab pendek-pendek seperti malas bicara. Wahyu hanya berkata bahwa ia naik bus dan sangat payah serta mengantuk. Ia langsung mandi, makan, dan tanpa berkata-kata masuk ke kamar tidur. Seminggu Mas Wahyu di rumah, seminggu pula Ibu diterpa treka-teki. Mas Wahyu nyaris tak pernah ke luar kamar dan berbicara. Wajahnya terlihat muram. Usaha Ibu untuk mengajaknya berbicara gagal, ia hanya tersenyum dan berkata bahwa ia sangat lelah dan agak kurang enak badan. Tawaran Ibu untuk memanggil dokter ditolaknya.

Genap seminggu, pagi-pagi benar Mas Wahyu balik ke Jakarta. Matahari sepenggalah ketika Ibu membersihkan kamar Mas Wahyu. Tiba-tiba pembantu Ibu mendengar jeritan Ibu dan menemukan tubuh Ibu tergeletak pingsan di kamar Mas Wahyu. Pak Dhe yang segera dipanggil ke rumah menemukan sobekan koran di tangan Ibu yang rupa-rupanya milik Mas Wahyu yang ketinggalan. Terbaca berita dalam sepotong koran yang tak utuh itu: Petugas kemarin menyegel rumah seorang pejabat berinisial WKW sebagai tersangka yang menggelapkan uang negara sebesar 650 M….

Malamnya Ibu pingsan lagi ketika dalam berita di televisi melihat Mas Wahyu dalam kawalan petugas dikerumuni wartawan seusai pemeriksaan. Semenjak itu Ibu tak mampu bangkit dari tempat tidurnya dan nyaris tidak pernah berbicara, hanya menangis dan menangis.

Kami semua terdiam mendengar cerita Pak Dhe. Dalam minggu-minggu terakhir ini kami memang sering melihat Mas Wahyu muncul di banyak koran dan televisi sebelum Ibu mengetahuinya. Kami semua telah melihat dengan mata kepala sendiri di televisi bagaimana dengan wajah pucat Mas Wahyu berteriak no comment, no comment! kepada para wartawan yang mengerubutinya. Berita di televisi dan di koran-koran itu telah menjadi bambu runcing yang menusuk-nusuk jantung kami sekeluarga.

Tiba-tiba suara Mas Pras memecahkan keheningan, “Lalu bagaimana sekarang? Apakah tidak ada diantara kita yang dapat mengusahakan agar Wahyu tidak ditahan? Apakah tidak ada diantara kalian yang mempunyai koneksi yang dapat menolong mengeluarkan Wahyu minimal mencegah penahanannya? Aku sanggup menyediakan berapapun biayanya!”

Semua mata terangkat dan memandang wajahku. Leher dan wajahku terasa dingin dan basah mendadak. Kulihat mata Mbak Tutik, mata. Mas Pras dan mata Pak Dhe begitu berharap cemas padaku.

“Ut, bukankah suamimu kerja di Kejaksaan? Tentu suamimu punya kenalan atau dapat mencarikan seseorang yang dapat membantu Wahyu, kasihan Ibu, Ut?”

Pertanyaan Mbak Tutik itu bagaikan bom yang meledak ditenggorokanku. Tiba-tiba aku melihat bayangan kijang kencana berkelebat menyelinap ruangan. Kulihat pula di langit-langit rumah wajah Kala Marica meyeringai mempertontonkan taring-taringnya menertawakan kisah-kisah kepahlawanan yang dulu indah dan mendebarkan. Kulihat pula wajah Bapak yang pucat dan dengan suara pilu semayup-sayup melagukan suluk ……

Ooo, suram-suramnya cahaya matahari

mencium mayat para satriya

bersama malam yang makin menyayat

lintang hilang sinar, bulan lalai berdandan

dan bumi semakin mesra berselingkuh

dengan raksasa yang berdendang, ooo

…………

*****Ngawi, 2005

Dimuat di Kompas, 11 November 2007